Posted by webmaster in Editorial, Featured, Pedas, Social life, USA | 0 Comments
Panduan hidup independent di Perantauan – part 1 – Determinasi
Hi kawula perantauan atau yang mau jadi calon perantau. Berikut ini adalah seri panduan hidup independent di perantauan, yang saya rasa perlu sekali untuk di persiapkan jauh hari sebelum merantau. Banyak dari kita yang modal bondo nekat ( bonek ), ada yang sukses, ada yang pulang kampung dan ada pula yang terlantar di negeri rantau. Sebenarnya kalau kita persiapkan dari jauh hari dengan perencanaan dan melatih mental terlebih dahulu, kemungkinan sukses “anak rantau” lebih besar dibanding penduduk “asal” atau native. Kenapa ? karena survey membuktikan bahwa semua orang yang merantau mempunyai kesempatan 70% lebih sukses dibanding penduduk asal (native). Tidak perduli dari suku, bangsa, agama, gender dan segala latar belakang orang tersebut.
Saya akan mengambil contoh Amerika. Ketika orang Inggris dan Perancis pertama kali datang mereka jumlahnya sangat sedikit, dibanding penduduk american indian. Meskipun pengetahuan mereka lebih modern, tetapi kapasitas man power mereka sangat terbatas. Apa yang membuat mereka terus lebih cepat maju ? jawabannya : “Determinasi / Keinginan yang kuat” untuk menjadi sukses di negara baru ini. Yang jelas apapun alasannya mereka datang, tapi 1 hal yang sudah pasti jelas “Mereka harus bisa hidup dan tinggal di negara baru ini” – apapun bayarannya.
Untuk mengerti kenapa Determinasi itu bisa sedemikian kuat ? kita harus tahu 2 macam determinasi yang ada pada setiap mahluk hidup.
- Determinasi karena menghindari sesuatu yang Negatif ( mati )
- Determinasi karena ingin mendapatkan sesuatu yang Positif ( menang )
Setelah lebih dari 1 dekade tinggal di Amerika, saya merasakan bagaimana beratnya menjadi generasi immigran pertama di negeri asing. Semuanya serba baru, dan semuanya harus dikerjakan sendiri. Tempat tinggal baru, teman baru, kerjaan baru, bos baru, lingkungan baru, bahasa baru ( campur aduk ), nyuci piring, laundry, ngelap, ngepel semuanya harus bisa sendiri. Asli, kalau kamu nggak pernah ngelakuin ini di indo, biasanya nggak bakal betah, 5 tahun max kamu minta pulang. :p serius.
Tetapi satu yang saya salut ketika pertama kali mulai tinggal di Amerika ialah bagaimana masyarakatnya itu bisa membaur ( meskipun beda banget semuanya ), dan punya rasa solidaritas yang cukup tinggi. Dulu dari indo sudah di doktrin kalau negara barat itu orangnya kurang ramah dan sangat individualistis. Setelah disini, saya rasa semua orang sama saja, kalau kita baik kebanyakan mereka juga baik. Bahkan banyak yang kelewat baik. Hahaha. Caveat : “Tergantung juga kamu tinggalnya dimana, kalau tinggal di daerah rawan – dimana saja sama.” Yang saya bahas disini adalah “Rata-rata” neighborhood yang baik.
Memang sih lebih individualistis, tapi dalam konteks menghargai urusan pribadi orang lain. Juga kebanyakan dari mereka taat peraturan. Mungkin karena negara maju memang mempunyai struktur hukum yang lebih baik, atau bisa juga karena semuanya punya mental “tamu”, jadi rasanya sungkan untuk macam-macam. Tapi ini juga yang membuat para imigran ini punya mental “tahan banting”
Ngomong soal “tahan banting” saya jadi ingat cerita guru sejarah saya pak Suriadi / Djoko yah ? hahaha udah lama banget. Ceritanya agak lupa tapi inti ceritanya ini nih. Pada saat invasi ke Spanyol, salah seorang jendral Turki ketika mendarat di pantai, menginstruksikan anak buahnya untuk “membakar” kapal mereka. Motivasinya “menang atau mati”, dan memang pada akhirnya mereka menang perang tersebut. Saya terinspirasi mendengar cerita itu ( makanya ingat terus ), kebanyakan imigran yang sukses di negara barunya memang harus punya mental “menang atau mati”. Jadi intinya, “Kunci sukses no 1 sebagai anak rantau adalah Determinasi yang tinggi, Determinasi yang tinggi memberikan semangat “tahan banting”, yang hanya bisa muncul jika punya mental “menang atau mati!”.
Lanjut nanti yah,
Salam kompak selalu,
Michael Sugih
loading...
Related posts:


















