Mar 23, 2010

Posted by in Featured, Tanya Jawab Sehat | 2 Comments

Susu dan Kanker payudara

Susu dan Kanker payudara

“MENGAPA SAYA PERCAYA BAHWA MENGHENTIKAN KONSUMSI SUSU MERUPAKAN PETUNJUK UNTUK MELAWAN KANKER PAYUDARA”

Disarikan dari buku “Your Life in Your Hands” karangan Professor Jane Plant, PhD, CBE.

Saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali mati atau menemukan obat untuk
menyembuhkan diri saja sendiri.
Saya seorang ilmuwan, oleh karena itu berpikir bahwa
tentunya ada penjelasan yang masuk akal bagi penyakit mematikan
yang menyerang satu dari 12 wanita di Inggris ini.breast-cancer-pink-ribbon-awareness

Saya telah merasakan penderitaan karena kehilangan satu payudara dan telah
menjalani radioterapi.
Sekarang saja menerima kemoterapi yang menyakitkan
dan sayapun telah diperiksa oleh beberapa ahli spesialis yang paling
terkemuka di negeri ini. Tetapi jauh di dalam hati saya, saya merasa yakin
bahwa saya menghadapi maut. Saya mempunyai suami yang mencintai saya,
rumah yang indah dan dua anak kecil yang memerlukan bimbingan saya. Saya sungguh ingin hidup.

Untunglah, keinginan hidup ini mendorong saya untuk menggali fakta-fakta,
yang baru sedikit diketahui oleh sejumlah kecil ilmuwan pada waktu itu.
Setiap orang yang berhubungan dengan kanker payudara akan tahu bahwa
beberapa faktor resiko – seperti usia tua, menstruasi terlalu dini,
menopause terlambat dan sejarah keluarga dengan kanker payudara,sungguh-sungguh tidak dapat kita cegah.
Tetapi ada banyak faktor resiko lainnya yang dapat kita kendalikan dengan baik.

Faktor-faktor resiko yang ‘terkontrol’ ini dengan mudah terwujud dalam perubahan-perubahan sederhana
yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita untuk mencegah atau mengobati kanker payudara.
breastcancer_stage4

Petunjuk pertama dalam memahami penyebab berkembangnya kanker payudara
saya datang pada saat suami saya Peter, yang juga ilmuwan, pulang ke tanah air
setelah bekerja di Cina, ketika saya sedang menjalani pengobatan kemoterapi.
Ia membawa kartu-kartu dan surat-surat, serta juga beberapa ramuan dari
tumbuh-tumbuhan, yang diberikan oleh teman-teman dan ilmuwan-ilmuwan mitra
saya di Cina.

Ramuan-ramuan itu dikirimkan kepada saya untuk menyembuhkan kanker
payudara itu
. Meskipun kami menghadapi keadaan yang menyedihkan pada saat itu, kami
dapat tertawa lepas, dan saya ingat telah mencetuskan perkataan bahwa ramuan
ini merupakan pengobatan bagi kanker payudara di Cina, dan tidak
mengherankan bahwa wanita-wanita di Cina berusaha menghindar dari penyakit ini

Kata-kata itu terngiang-ngiang di benak saya. “Mengapa wanita-wanita di Cina
tidak terkena kanker payudara?”
Saya pernah bekerja sama dengan mitra-mitra
Cina dalam penelitian tentang hubungan antara kimia tanah dan penyakit,
dan mengingat beberapa statistik yang telah dibuat.

Penyakit ini boleh dikatakan tidak terdapat di seluruh negeri Cina. Hanya
10.000 wanita di Cina wafat karena penyakit ini, dibandingkan dengan
persentase menakutkan bahwa satu di antara 12 wanita di Inggris meninggal
dunia karena penyakit ini, dan bahkan angka ini lebih mengerikan lagi
menjadi rata-rata satu di antara 10 wanita di sebagian besar negara-negara
Barat. Hal ini bukanlah karena Cina merupakan negeri yang lebih bersifat
pedesaan, dan tidak banyak terkena polusi perkotaan. Di daerah Hong Kong
yang padat, persentase meningkat menjadi 34 di antara 10.000 wanita, namun
toh masih jauh lebih sedikit daripada di Barat.

Kota-kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang juga memiliki persentase yang
hampir sama dengan Cina.
Padahal kedua kota ini telah diserang dengan
senjata nuklir, sehingga selain kanker yang berhubungan dengan polusi,
kita dapat memperkirakan adanya kasus-kasus kanker yang terkait dengan radiasi.

Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari statistik ini sungguh mengejutkan.
Apabila seorang wanita Barat pindah ke kota industri Hiroshima yang telah
teradiasi, resiko terkena kanker payudara ini dapat menjadi satu
berbanding dua. Tentu saja hal ini tidak masuk akal. Saya merasa yakin bahwa ada
sebuah faktor gaya hidup yang bukan terkait dengan polusi, urbanisasi atau
lingkungan hidup yang nyata-nyata telah meningkatkan kemungkinan wanita
Barat terkena kanker payudara.

Saya kemudian menemukan bahwa penyebab perbedaan besar dalam persentase
kanker payudara antara negara-negara Timur dan Barat bukanlah karena
faktor genetika.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa apabila orang Cina atau
Jepang pindah ke Barat, dalam satu atau dua generasi persentase kanker payudara
mereka mendekati persentase dari penduduk negara di mana mereka tinggal.

Hal yang sama terjadi apabila orang-orang Timur sepenuhnya meniru gaya
hidup Barat di Hong Kong.
Sesungguhnya, nama populer yang disebutkan orang di
Cina bagi kanker payudara adalah ‘Penyakit Wanita Kaya’. Ini disebabkan bahwa
di Cina, hanya orang-orang kaya yang dapat menikmati apa yang disebut sebagai
‘Makanan Hong Kong’.

Orang-orang Cina menggambarkan semua makanan Barat, termasuk semua kudapan
dari es krim dan coklat sampai spaghetti dan keju, sebagai ‘Makanan HongKong’ karena
hanya terdapat di bekas koloni Inggris dan dulu jarang ada di daratan Cina.

Jadi sungguh masuk akal bagi saya bahwa apa yang menyebabkan kanker payudara
saya ini
dan banyaknya penderita penyakit tersebut di negara saya hampir
dipastikan berasal dari sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup Barat
kita, dari kalangan menengah yang lebih baik. Angka ini juga besar bagi para
pria di sini. Saya telah mengamati dalam penelitian saya bahwa banyak data
tentang kanker prostat juga sampai pada kesimpulan yang sama.

Menurut angka dari WHO, jumlah pria yang terkena kanker prostat di Cina
pedesaan hampir tidak ada,
hanya 0,5 pria di antara 100.000. Namun
demikian di Inggris, Skotlandia dan Wales, angka ini 70 kali lebih tinggi. Seperti
kanker payudara, penyakit ini merupakan penyakit kalangan menengah dan
terutama menyerang kelompok-kelompok sosial yang lebih kaya dan mempunyai
kehidupan sosial-ekonomi yang lebih tinggi, yaitu mereka yang dapat
menikmati makanan yang bergizi tinggi. Saya teringat berkata kepada suami
saya, “Ayolah Peter, kamu baru saja pulang dari Cina. Apa sih gaya hidup
ina yang sangat berbeda dengan kita?” “Mengapa mereka tidak terkena
kanker payudara?”

Kami memutuskan untuk menggunakan latar belakang ilmu kami bersama-sama
dan melakukan pendekatan dengan logika.
Kami memeriksa data ilmiah yang
mengarahkan kami pada kandungan lemak dalam makanan. Para peneliti pada
tahun 1980-an telah menemukan bahwa hanya 14% kalori di hidangan Cina
terdiri atas lemak, dibandingkan dengan hampir 36% di Barat.

Tetapi makanan yang telah saya santap selama bertahun-tahun sebelum
terkena kanker payudara ini sangat rendah lemak dan berserat tinggi.
Selain itu,
sebagai ilmuwan saya tahu bahwa asupan lemak pada orang dewasa tidak
menunjukkan peningkatan resiko kanker payudara dalam sebagian besar
investigasi yang telah dilakukan pada kelompok-kelompok besar wanita
selama dua belas tahun.

Lalu pada suatu hari sesuatu yang agak istimewa terjadi. Peter dan saya
telah bekerja sama begitu erat selama bertahun-tahun lamanya sehingga saya
tidak yakin siapa di antara kami berdua yang berkata terlebih dahulu:
“Orang-orang Cina tidak makan produk dari susu!”
rebecca-romijn-got-milk-propaganda

Sulit untuk menjelaskan kepada orang yang bukan ilmuwan terjadinya
‘dentingan’ pikiran dan perasaan yang mendadak ketika menyadari bahwa
pikiran kita terbuka pada sesuatu hal yang penting. Rasanya seperti ada
banyak potongan gambar di dalam otak kita dan tiba-tiba, dalam beberapa
detik, semua teka-teki ini terangkai dengan baik sehingga membentuk gambar
yang jelas.

Tiba-tiba saya teringat kembali betapa banyak orang Cina yang tidak dapat
mencernakan susu dengan baik ( lactose intolerant ),
betapa orang-orang Cina yang bekerja dengan
saya selalu berkata bahwa susu hanya untuk bayi, dan bagaimana salah
seorang sahabat karib saya, yang keturunan Cina, dengan sopan selalu menolak keju
pada saat jamuan malam.

Saya tahu bahwa tak ada orang Cina yang hidup secara tradisional, yang
menggunakan susu sapi atau produk dari susu untuk memberi makan kepada
bayinya.
Dalam adat istiadat mereka, mereka menggunakan inang penyusu
tetapi tidak pernah produk dari susu.

Secara budaya, orang-orang Cina menganggap gaya Barat kita yang sangat
menyukai susu dan produk dari susu sebagai sesuatu yang sangat aneh.
Saya
teringat ketika menjamu sebuah delegasi besar ilmuwan Cina tidak lama
setelah berakhirnya Revolusi Budaya di Cina pada tahun 1980-an.

Atas nasihat Biro Luar Negeri, kami telah meminta kepada perusahaan jasa
boga untuk menyediakan puding yang mengandung banyak es krim.
Setelah
menanyakan dari apa puding itu dibuat, semua ilmuwan Cina itu, termasuk
penerjemahnya, dengan sopan namun tegas menolak untuk menyantapnya, dan
mereka tidak dapat dibujuk untuk mengubah pikiran mereka. Pada waktu itu
kami semua senang dan menikmati porsi tambahan!

Saya menemukan bahwa “susu adalah salah satu penyebab umum alergi makanan” .
Sekitar 70% penduduk dunia tidak dapat mencernakan gula susu, laktosa,
sehingga para ahli gizi berpendapat bahwa kondisi ini normal bagi orang
dewasa, dan bukan merupakan sebuah defisiensi (kekurangan). Mungkin alam
berusaha mengatakan kepada kita bahwa kita telah mengkonsumsi makanan yang
salah.

Sebelum saya terkena kanker payudara untuk pertama kali, saya telah makan
banyak produk dari susu, seperti susu tanpa lemak, keju rendah lemak dan
yoghurt. Saya menggunakannya sebagai sumber protein saya yang utama. Saya
juga makan daging cincang sapi yang tidak berlemak, yang sekarang baru
saya sadari mungkin sering berasal dari sapi perahan.

Agar dapat mengatasi kemoterapi untuk benjolan kanker saya yang “ke-lima”
ini,
saya telah makan yoghurt organik agar alat-alat pencernaan saya dapat
pulih kembali dan mengembalikan bakteri-bakteri ‘yang baik’ ke dalam usus saya.

Baru-baru ini, saya menemukan bahwa pada tahun 1989 yang lalu, “yoghurt ”
telah terlibat dalam “kanker ovarium (indung telur)” .
Dr Daniel Cramer dari
Unversitas Harvard telah meneliti ratusan wanita penderita kanker indung
telur dan telah mencatat dengan rinci apa yang biasa mereka makan. Coba
saya tahu tentang hal ini ketika ia pertama kali menemukannya.

Mengikuti nasihat Peter dan pendapat saya tentang makanan Cina, saya
memutuskan untuk tidak saja “menghentikan yoghurt tetapi semua produk dari
susu, saat ini juga. Keju, mentega dan yoghurt serta semua makanan yang
mengandung susu saya buang ke sampah.

Betapa mengherankan bahwa begitu banyak produk termasuk sup buatan,
biskuit dan kue mengandung susu. Bahkan banyak merek margarin yang dijual dengan
bahan dari minyak kedelai, minyak bunga matahari atau minyak zaitun dapat
mengandung produk susu . Oleh karena itu saya kemudian membaca semua
kandungan yang tercetak di label-label makanan.

Sampai saat itu, saya setia mengukur perkembangan benjolan kanker saya
yang kelima ini dengan alat pengukur dan mencatat kasilnya
. Meskipun para
dokter dan suster banyak memberi semangat dan berkata positif kepada saya,
pengamatan saya sendiri mengungkapkan kenyataan yang pahit. Seri
kemoterapi saya yang pertama untuk benjolan kelima ini tidak berhasil – benjolan itu
tetap sama. Kemudian saya menghapuskan produk-produk dari susu. Beberapa
hari kemudian benjolan itu mulai mengecil.

Sekitar dua minggu setelah seri kemoterapi saya yang kedua dan seminggu
setelah tidak mengkonsumsi produk dari susu, benjolan di leher saya mulai
terasa gatal.
Kemudian benjolan itu melunak dan mengecil. Garis di alat
pengukur, yang tadinya tidak menunjukkan perubahan, sekarang menunjuk ke
bawah setelah tumor itu menjadi kecil dan mengecil lagi.

Dan secara signifikan, saya mencatat bahwa daripada menurun secara
perlahan-lahan (membentuk kurva yang halus) seperti biasanya terjadi pada
kanker, tumor yang mengecil ini digambarkan seperti garis lurus yang
menuju ke bagian bawah alat pengukur, yang menggambarkan penyembuhan, bukan
pembasmian (atau pengurangan) tumor.

Pada hari Sabtu siang sekitar enam minggu setelah tidak mengkonsumsi
produk-produk susu ini,
saya melakukan meditasi selama sejam kemudian
meraba apa yang yang masih tersisa dari benjolan saya. Saya tidak menemukannya
lagi. Padahal saya sangat berpengalaman dalam mendeteksi benjolan kanker,
karena saya menemukan kelima benjolan kanker saja itu sendiri. Saya turun
ke tingkat bawah rumah dan meminta suami saya meraba leher saya. Ia pun tidak
menemukan benjolan apapun juga.

Hari Kamis berikutnya saja harus memeriksakan diri saya pada dokter
spesialis kanker saya di Cross Hospital London.
Ia memeriksa saya dengan
teliti, terutama leher saya di mana sebelumnya ada tumor. Tadinya ia
tercengang dan kemudian gembira ketika berkata, “Saya tidak menemukannya.”

Ternyata tidak seorangpun dari dokter-dokter saya yang memperkirakan bahwa
seseorang dengan jenis dan stadium kanker saya (yang jelas-jelas sudah
menyebar ke sistem getah bening) dapat bertahan hidup, apalagi begitu
sehat dan gembira.

Dokter spesialis saya merasa sangat bahagia seperti saya. Tadinya ketika
saya membicarakan gagasan saya dengannya, ia dapat memahami tetapi
bersikap skeptis. Tetapi saya tahu bahwa sekarang ia menggunakan peta yang
menunjukkan persentase kanker di Cina di dalam kuliah-kuliah yang
diberikannya, dan menganjurkan makanan tanpa produk susu bagi
pasien-pasien kankernya.

Saya sekarang meyakini adanya kesamaan dalam pertalian antara produk dari
susu dan kanker payudara dengan merokok dan kanker paru-paru.
Saya percaya
bahwa dengan mengidentifikasi pertalian antara kanker payudara dan produk
susu dan kemudian mengembangkan makanan yang khusus ditujukan untuk
mempertahankan kesehatan dari payudara dan sistem hormon saya, telah
menyembuhkan saya.

Sangat sulit bagi saya, dan mungkin juga bagi anda, untuk menerima bahwa
sebuah zat yang begitu ‘alami’ seperti susu dapat berdampak begitu
mencelakakan bagi kesehatan.
Tetapi saya merupakan bukti hidup bahwa hal
itu benar-benar terjadi dan mulai besok saya akan mengungkapkan rahasia
kegiatan saya yang mengubah semuanya ini.

GD Star Rating
loading...
Related Posts with Thumbnails

Related posts:

  1. Cara mendetox agar badan menjadi alkaline part 2
468 ad
  1. lalu dok jika memang susu dapat memicu kangker mengapa bnyk penderita kangker yang direkomendasikan meminum susu seusi penyakit yg di deritanya? seperti misalnya penderita sirosis kanker hati yang dianjurkan meminum susu hepatosol..

    [Reply]

    webmaster Reply:

    well, coba cari dokter lain deh. kalau kamu tertarik bisa baca buku “The microbe factor” oleh Dr Hiromi Shinya – Gastroenterologist

    [Reply]

    GD Star Rating
    loading...

Leave a Reply